Pemanfaatan Taman Nasional
Sebagai Wisata Alam
Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem
asli dimana pengelolaannya dengan sistem zonasi yang pemanfaatannya antara lain
untuk tujuan pendidikan, penelitian dan rekreasi. Indonesia memiliki 50 buah
taman nasional yang menyebar di enam wilayah yaitu Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua. Dari seluruh
taman nasional yang ada di Indonesia, TN Lorentz merupakan taman nasional
daratan dengan keluasan yang paling besar yaitu sekitar 2.505.600 hektar dan TN
Kelimutu merupakan taman nasional daratan dengan keluasan yang paling kecil yaitu
sekitar 5.000 hektar, sedangkan TN Laut Teluk Cendrawasih merupakan taman
nasional laut dengan luasan yang paling besar 1.453.500 hektar dan TN Laut
Bunaken Manado Tua merupakan taman nasional laut dengan luasan yang paling
kecilyaitu sekitar 89.065 hektar. Keadaan biofisik taman-taman nasional
tersebut sangat bervariasi. Dari segi luas saja, terdapat keragaman yang sangat
tinggi, yaitu dari cuma 5000 ha seperti TN Kelimutu sampai 2,5 juta ha seperti
TN Lorentz. Demikian pula, keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di
mana taman-taman nasional tersebut berada adalah sangat beragam. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa setiap taman nasional tersebut memiliki potensi,
permasalahanatau persoalan dan tantangannya masing-masing.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) adalah salah satu dari taman
nasional yang ada di Indonesia. Taman nasional ini terletak di Provinsi Jawa
Timur dan secara administrative terletak di empat kabupaten yaitu, Kabupaten
Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan. TNBTS
memiliki dua objek daya tarik wisata yang paling popular yaitu Gunung Bromo dan
Gunung Semeru.
Objek wisata Gunung Semeru merupakan salah satu kawasan hutan yang
dimanfaatkan sebagai objek wisata alam. Pariwisata saat ini menjadi salah satu
sektor perekonomian yang dapat diandalkan dalam pembangunan ekonomi mulai dari
tingkat daerah hingga nasional, terbukti dengan peningkatan jumlah wisatawan
asing yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2011 sebesar 8,45% jika
dibandingkan dengan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada
tahun 2010 yaitu sebesar 7,002,944 orang.
Indonesia yang kaya dengan objek wisata alam sangat memungkinkan untuk
dikembangkan guna mendukung peningkatan ekonomi masyarakat. Pada sektor kehutanan,
wisata alam dan pemanfaatannya diharapkan dapat menjadi kegiatan yang penting
dalam perbaikan kondisi lingkungan dan peningkatan peran masyarakat dalam
menjaga kelestarian lingkungan khususnya kawasan hutan. Besarnya korbanan yang
dikeluarkan dapat digunakan untuk merefleksikan preferensi masyarakat terhadap
sumberdaya alam hayati.
Dalam pengelolaan dan pengembangan suatu taman nasional selain aspek
lingkungan perlu diperhatikan aspek sosial dan ekonomi. Besarnya pengorbanan
yang diberikan untuk pengelolaan taman nasional tersebut hendaknya memberikan
suatu keuntungan. Keuntungan disini bukan hanya terjaganya kelestarian alam
tetapi juga memberikan manfaat secara sosial dan ekonomi. Secara sosial
bermanfaat bagi masyarakat baik pengunjung yang menikmati keindahan alam
ataupun masyarakat lokal yang memanfaatkan sumberdaya alam tersebut. Secara
ekonomi adanya manfaat bagi institusi pengelola secara materi yang melebihi
biaya pengelolaan yang dikeluarkan.
Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang terjadi akan menurunkan
manfaat tangible dan intangible suatu kawasan begitu juga dengan kawasan Gunung
Semeru. Hal ini bisa merupakan efek dari tidak diketahuinya manfaat dari sumber
daya alam di kawasan tersebut. Potensi daya tarik wisata alam yang dimiliki oleh
Gunung Semeru merupakan modal utama pendorong kehadiran wisatawan untuk datang
berkunjung. Daya tarik wisata alam tersebut akan dapat dinikmati oleh
pengunjung bila tersedia fasilitas pendukung, sehingga pengembangan prasarana
dan sarana fisik mutlak diperlukan.
Perencanaan pengembangan obyek daya tarik wisata dan pengembangan jenis
kegiatan wisata sejak awal perlu dilakukan dan disusun dalam sebuah rancangan
pengelolaan kawasan wisata sebagai alur pengembangan di masa yang akan datang.
Kemudian nilai ekonomi di salah satu kawasan Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru pada dikategorikan dalam manfaat intangible berupa wisata.
Nilai wisata dilihat dari konsep ekonomi dapat diukur dengan metode
kontingensi melalui pendekatan kesediaan membayar (willingness to pay)
atas kepuasan memperoleh peningkatan kualitas lingkungan wisata dari kawasan.
Metode ini mengukur besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pengunjung sehingga
dapat dijadikan acuan untuk menduga potensi dan nilai ekonomi yang dimiliki
kawasan TNBTS. Dengan diketahuinya identifikasi daya tarik obyek wisata dan
nilai ekonomi ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan bahwa lingkungan
dan sumberdaya alam memiliki nilai manfaat yang besar bagi masyarakat, sehingga
bukan hanya pemerintah dan pengelola tetapi juga pengunjung dan masyarakat
penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam.
Menurut simulasi penghitungan willingness to pay TNBTS yang dilakukan,
nilai wisata dari wisata alam Gunung Semeru pada tahun 2010 adalah sebesar Rp
36.210.000 dengan WTP rata-rata sebesar Rp 13.076,92. Terjadi peningkatan nilai
wisata setiap tahunnya dimana hal ini dipengaruhi oleh peningkatan jumlah
pengunjung dari tahun ke tahun. [dan]
sumber : Seminar Sumberdaya Alam, Lingkungan dan Energi Universitas Airlangga
tahun 2012 tentang Pengembangan Wisata Alam di Kawasan Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru Studi Kasus di Objek Wisata Alam Gunung Semeru oleh Daniel
Jones Bernadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar